Q : Apa itu Allah? (TUHAN)?
A : Jawaban.
Jawaban:
Kata Asal: “Allah”;
Allah (bahasa Arab: اللّٰه, translit. Allāh, IPA: ʔalˤˈlˤɑːh) adalah kata dalam bahasa Arab untuk TUHAN (al-Ilāh, arti harfiah: Yang berhak disembah). Kata ini terutama digunakan oleh umat Muslim untuk menyebut TUHAN dalam Islam, tetapi juga telah digunakan oleh Arab Kristen sejak masa pra-Islam (sebelum Islam).
Umat Kristen Arab;
Suku-suku Arab yang pertama kali memeluk agama Kristen adalah kaum ʾAnbāṭ dan Bani Ghassan. Pada abad ke-5 dan ke-6, Bani Ghassan, yang mula-mula menganut ajaran monofisitisme, membentuk salah satu konfederasi Arab terkuat yang bersekutu dengan kekaisaran Kristen Romawi Timur, dan menjadi tameng yang melindungi kekaisaran dari serangan suku-suku Arab penyembah berhala. Raja terakhir Bani Lakhm, An Nu’man ibnul Mundhir, salah seorang raja gundal Kekaisaran Sasani pada akhir abad ke-6, juga beralih memeluk agama Kristen (Nestorian). Orang Arab Kristen berperan penting dalam gerakan An Nahdah (kebangunan) pada Zaman Modern.-sumber: Wikipedia.
Orang Arab Kristen bukanlah satu-satunya kelompok umat Kristen di Timur Tengah, karena ada cukup banyak komunitas umat Kristen pribumi non-Arab, yakni umat Kristen Asiria, umat Kristen Aram, umat Kristen Armenia, umat Kristen Kaldea, dan lain-lain. Meskipun kadang-kadang digolongkan sebagai “umat Kristen Arab”, umat Kristen Maronit dan umat Kristen Koptik, yang merupakan kelompok-kelompok umat Kristen terbesar di Timur Tengah, sering kali menganggap diri mereka bukan orang Arab. Sebagian umat Kristen Maronit membanggakan diri sebagai keturunan bangsa Fenisia kuno, sementara umat Kristen Koptik lebih bangga menjadi keturunan bangsa Mesir kuno daripada bangsa Arab.
Orang Arab Kristen adalah warga pribumi kawasan Asia Barat, lama sebelum umat Islam mulai melancarkan aksi-aksi penaklukan di kawasan Bulan Sabit Subur pada abad ke-7. Ada banyak suku Arab yang memeluk agama Kristen semenjak abad pertama tarikh Masehi, antara lain kaum ʿAnbat dan Bani Ghassan.
Sejumlah pengkaji sejarah pada Zaman Modern menduga bahwa Filipus Orang Arab adalah Kaisar Romawi pertama yang memeluk agama Kristen. Pada abad ke-4, ada sejumlah besar umat Kristen yang mendiami Jazirah Sinai, Mesopotamia, dan Jazirah Arab.
Kitab Suci Perjanjian Baru memuat keterangan tentang orang-orang Arab yang menerima agama Kristen dalam Kisah Para Rasul. Diriwayatkan bahwa tatkala Santo Petrus berkhotbah di Yerusalem, khalayak ramai bertanya-tanya, “bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita? … baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” (Kisah Para Rasul 2:8-11). Dengan demikian, umat Kristen Arab adalah salah satu komunitas Kristen tertua.
Keterangan tentang keberadaan umat Kristen di Jazirah Arab pertama kali muncul dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Rasul Paulus mengaku berkunjung ke Arab sesudah memeluk agama Kristen (Galatia 1:15-17). Di kemudian hari, Eusebius menyebut-nyebut tentang seorang uskup bernama Berilus, pemimpin umat Kristen di Bostra (Busra Asy Syam), tempat diselenggarakannya sebuah sinode sekitar tahun 240, dan dua kali konsili Arab. Umat Kristen sudah hadir di tanah Arab sekurang-kurangnya sejak abad ke-3.
Umat Kristen yang ikut memakai kata Allah karena terpengaruh Bahasa Arab ini ada di berbagai negara, selain di Timur Tengah, ada juga gereja-gereja di Malaysia dan Indonesia.
Selain Kristen, umat beragama lain yang secara aktif menyebut TUHAN dengan kata ‘Allah’ ini antara lain: penganut Babisme (Islam Syiah); Baha’i (Keesaan Tuhan, Kesatuan Agama, dan Persatuan Umat); Mandean (Menganggap nabi mereka yaitu Nabi Yahya); Yahudi Mizrahi (ritual Yudaisme Sefardim dengan Kepala Rabbi Sefardi Israel); serta Sikhisme (Satu Tuhan yang Pantheistik, termasuk Alam) -walaupun tidak secara eksklusif.
Pengertian Allah menurut Katolik:
Dalam Kristen Katolik ‘Allah Tri-Tunggal‘ atau ‘Allah Trinitas’ (kata Latin yang secara harfiah berarti “tiga serangkai”, dari kata trinus, “rangkap tiga”) menyatakan bahwa Allah adalah Esa (Tunggal) dalam tiga (Tri) pribadi berbeda yang se-hakikat/se-kodrat yaitu: “Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus”, disebut konsep/doktrin “Homoousios”.
Dalam konteks ini, perlu dipahami perbedaan antara “Kodrat” dan “Pribadi”.
- Kodrat adalah apa Dia = jumlah kodrat Allah (TUHAN) hanya 1 (satu/esa).
- Pribadi adalah siapa Dia = jumlah pribadi Allah (TUHAN) ada 3 (tiga/tri) yang berbeda-beda.
Satu Allah dalam tiga pribadi: kendati berbeda satu sama lain dalam hubungan asal (sebagaimana dinyatakan dalam Konsili Lateran IV, “adalah Allah yang memperanakkan, Putra yang diperanakkan, dan Roh Kudus yang dihembuskan”) dan hubungan satu sama lain, tetapi ketiganya dinyatakan satu dalam semua yang lain, setara, sama kekalnya, dan konsubstansial, serta masing-masing adalah Allah, seutuhnya dan seluruhnya. Karenanya seluruh karya penciptaan dan rahmat dipandang sebagai satu operasi tunggal secara bersama-sama pada keseluruhan tiga pribadi ilahi, dengan kekhususan masing-masing pribadi, sehingga segalanya berasal “dari Bapa”, “melalui Putra”, dan “dalam Roh Kudus”.

Allah Bapa dalam Gereja Katolik:
Dalam Kekristenan, Allah disebut “Bapa” dalam pengertian yang tidak pernah dikenal sebelumnya, selain sebagai Pencipta dan Pemelihara ciptaan, dan Pelindung bagi anak-anak-Nya, umat-Nya. Bapa dikatakan mempunyai hubungan yang kekal dengan Anak Tunggal-Nya, Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa, Kristus adalah Anak Allah yang lahir dari Dia. Yesus adalah Sang Firman yang datang dari Bapa. Hal ini menyiratkan suatu hubungan yang eksklusif dan akrab yang menjadi hakikat-Nya yang khas: “…tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya” (Matius 11:27). Dalam teologi Kristen, ini adalah ungkapan dari pengertian tentang Bapa yang menjadi hakikat sifat Allah, suatu hubungan yang kekal dengan Sang Anak. Bentuk dominan dari teologi ini menyatakan bahwa hubungan ini merupakan misteri Kristen yang disebut Tritunggal.
Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah. (Galatia 4:4-7-Konteks alkitab ‘Tak ada lagi perhambaan’). Allah sebagai Bapa yang memelihara, yang memberikan kasih seorang Bapa Sejati yang sangat mesra, begitu penyayang dan begitu tertib penuh ketegasan (disiplin). Bapa Sorgawi tidak pernah sama dengan para bapa (bapak-bapak atau para ayah) di dunia ini dalam hal kasih dan karakter yang tidak dapat terbandingi dengan kasih dan karakter Bapa Sorgawi. Allah sebagai Bapa Sorgawi merupakan Bapa yang sempurna dari segala bapa (bapak-bapak atau para ayah) di dunia ini yang adalah gambaran dan rupa (duplikat dan bayangan) dari Sang Bapa Sorgawi yang murni.
Kesetaraan dan Kekekalan ketiga pribadi dalam satu kodrat Allah (TUHAN).
Firman Allah yang disampaikan dalam teks-teks, diperlukan karunia bagi setiap manusia untuk dapat mengerti secara keseluruhan konteks isi alkitab, tidak hanya secara hurufiah saja melainkan harus memahami dan menganalisa secara teliti dan hati-hati makna apa yang tersirat di dalamnya. Kepada orang-orang yang telah mendapat karunia dari Tuhan dapat mengerti sepenuhnya, dan ada kedamaian dan kasih di dalam dirinya, namun bagi sebagian orang masih belum dapat mengerti akan firman Allah. Maka itulah Yesus berkata;
Mat 13:11-13;
11 Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.
12 Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
13 “Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.“
Perlu diketahui, kata ucapan “Bapa” itu sendiri muncul dan diucapkan oleh Yesus, yang sebelumnya tidak pernah ada di dalam perjanjian lama. Kata “Bapa”, yang Yesus selalu sebut di dalam doa-Nya. Sebelumnya, manusia hanya mengetahui panggilan dengan sebutan Tuan Allah (YHWH Elohim / Adonay Elohim / Lord God). Yesus sendiri memiliki 2 kodrat di dalam diri-Nya yaitu memiliki kodrat sebagai seorang manusia yang lahir di dunia dan juga memiliki kodrat sebagai Allah yang sempurna sebagai “Sang Pencipta” (Yoh 1:3) dan “Yang Mahakuasa” (Wahyu 1:8).
Kita harus mengetahui bahwa begitu banyak ayat yang menunjukkan secara jelas bahwa pribadi Yesus adalah setara dengan Sang Bapa. Yesus melakukan semua itu yaitu untuk memberikan gambaran kepada manusia bagaimana cara manusia memandang kepada Allah yang esa. Diri-Nya adalah sebagai contoh bagi manusia dalam berperilaku, bagaimana seharusnya orang itu bersikap kepada Allah (dari kacamata seorang manusia, bersikap, dan berperilaku yang sama seperti manusia pada umumnya, dan itu semua dilakukan oleh Yesus kepada Allah). Memang seperti itulah seharusnya manusia bersikap, yaitu merendahkan dirinya kepada Allah, bersikap rendah hati seorang yang satu kepada yang lainnya, tidak merasa dirinya lebih tinggi dibanding pribadi yang lainnya, saling mengasihi terhadap sesama, dan saling mengampuni kesalahan satu dengan yang lainnya. Semua orang memanggil Yesus dengan sebutan Guru dan Tuan. Perlu diketahui bahwa Yesus mengakui bahwa dirinya adalah Guru dan Tuan. Yoh 13:13, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” Kata Tuan disini dalam bahasa asli Yunani adalah Κύριος (Kyrios) yang artinya TUHAN. Seperti di dalam ayat Yesaya 47:11, “Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku.” The proper name of the God of Israel (YHWH).
Kyrios atau kurios (Yunani Kuno: κύριος, diromanisasi: kýrios) adalah kata Yunani yang biasanya diterjemahkan sebagai “tuan” atau “Tuan”. Ini digunakan dalam terjemahan Septuaginta dari kitab suci Ibrani sekitar 7000 kali, khususnya menerjemahkan nama Tuhan: YHWH (Tetragramaton), dan muncul dalam Perjanjian Baru Yunani Koine sekitar 740 kali, biasanya mengacu pada Yesus.-Wikipedia.
Sedangkan bahasa Ibrani untuk kata “Allah” adalah Elohim. Seperti di dalam ayat Kej 2:4, Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, — Kata “TUHAN Allah”, TUHAN=YHWH, Allah=Elohim.
Dan Yesus memanggil Allah dengan sebutan “Bapa”, supaya menjadi contoh bagi kita untuk memanggil Allah dengan sebutan Bapa. Yesus berkata, Yoh 5:44, Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?. Bahwa Yesus bukan sekedar untuk mencari hormat semata, melainkan lebih dari itu. Yesus menginginkan supaya orang dapat percaya bahwa kehidupan kekal dan keselamatan adalah bersatu dan percaya kepada-Nya yaitu di dalam Dia, dengan beriman kepada-Nya adalah jalan satu-satunya kepada Bapa. Kata Allah dalam bahasa Yunani adalah Θεοῦ atau θεός (Theou; Theos).
Pada jaman kehidupan Yesus, orang Yahudi yang percaya akan penggenapan janji Allah yang akan mendatangkan Mesias, mereka sangat memahami dan percaya sepenuhnya kepada kodrat Yesus sebagai Anak Allah dan juga sebagai Allah. Misalnya: Simon Petrus berkata bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat 16:16); Allah yang Perkasa (Yes 9:5); Stefanus berdoa kepada Yesus (Kis 7:59); Kekekalan di dalam kodrat Yesus yang tidak terbatas pada ruang dan waktu, sebab Ia berkata: (…”Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada”-Yoh 8:58); (…”Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman”-Mat 28:20), dan masih banyak ayat yang lainnya.
Salah satu ayat yang paling terkenal yaitu jawaban Yesus mengenai iman percaya kepada diri-Nya diantaranya, yaitu:
“Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
Ketika Yesus berkata bahwa Dia dapat membangkitkan diriNya sendiri;
Yoh 2:19-21; Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: “Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. Ini adalah bukti bahwa benar dalam semua perkataan Yesus karena pada hari ketiga, Dia bangkit dari antara orang mati. Dan sebelum Yesus wafat, Dia sudah mengatakan berulang kali kepada murid-muridNya mengenai perihal akan bangkit yaitu akan terjadi pada hari ketiga.
Dari banyak perkataan-perkataan Yesus, seperti di ayat Yoh 10:30, “Aku dan Bapa adalah satu.” Ini menunjukkan penjelasan Yesus bahwa: Yesus dan Bapa adalah satu kodrat (tidak terpisahkan). Ayat lainnya adalah; Yoh 8:24, “Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” dan Yoh 8:26, “Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia.” Yesus berkata bahwa Bapa adalah benar, artinya adalah Bapa yang telah bersaksi menyatakan Anak-Nya di dunia dan beserta segala kuasa mukjizat-Nya. Yesus pernah berkata dalam Yoh 8:23, Lalu Ia berkata kepada mereka: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini.”
Yesus telah bangkit dan akan terus mempimpin manusia ke dalam seluruh kebenaran, Dia telah mati namun hidup untuk selama-lamanya, di dalam ayat Yoh 16:13, Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Roh Kudus yang diutus oleh Yesus dan Bapa untuk memberikan kelahiran baru (Titus 3:5; 1 Tes 1:6; Yoh 14:26; Ibr 9:14).
Rasul Paulus menegaskan kembali makna yang tersirat, misalnya ayat 1 Kor 15:28 yang ditulis olehnya dengan pernyataan pada kalimat terakhir dalam ayat tersebut yaitu ‘supaya Allah menjadi semua di dalam semua‘. Ini menunjukkan penjelasan dari Rasul Paulus bahwa: Bapa (Kepribadian Bapa) tidaklah lebih tinggi daripada Anak ataupun juga dengan Roh Kudus, namun setara, dan sama kekalnya. Juga perlu diketahui, kehadiran Allah Bapa dan Putra dan Roh Kudus itu adalah satu dan tidak terpisahkan.
Bapa adalah Juruselamat, Anak adalah Juruselamat, dan Roh Kudus itu Pemberi Hidup yang telah dicurahkan dari Bapa dan Putra ke dalam diri manusia bagi orang-orang yang menerima Kristus sebagai Juruselamat. Sebagaimana tertuang dalam Yoh 14:6, Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Bahwa Yesus menunjukkan karya keselamatan Allah bagi semua manusia untuk memperoleh kehidupan kekal yaitu dengan bersatu dengan-Nya (menjadi satu tubuh dengan Kristus), yaitu Yesus Kristus sebagai jalan kepada Bapa, sebagai kebenaran, dan sebagai roti hidup. Ini adalah rahasia hikmat yang dikaruniakan kepada orang-orang untuk menerima, percaya, dan beriman kepada-Nya.
Cara Penyebutan dan Kodrat Allah (dalam Gereja Katolik);
Umat katolik selalu menggunakan Tanda Salib sebelum memulai berdoa dan sesudah berdoa, atau menghaturkan Doa Kemuliaan dalam doa penutup, adalah merupakan tradisi umat Katolik di dalam memuliakan Allah Tri-tunggal Mahakudus atau Allah Yang Mahakuasa (Esa), yaitu:
TANDA SALIB: “Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Amin.”–
DOA KEMULIAAN: “Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, Amin.”–
—
| Cara Penyebutan Masing-masing Pribadi yang berbeda (dalam Gereja Katolik) | Kodrat TUHAN adalah Satu/Esa (dalam Kesetaraan dan Kekekalan) |
| 1. Bapa (Allah Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta Langit dan Bumi). Umat katolik menggunakan kata “Bapa” dalam pengucapan, seperti bagaimana Yesus memanggil Bapa dan mengajarkan doa Bapa kami. | YHWH (Tetragrammaton); = Juruselamat = God the Father/Father = Alfa & Omega = Yang Awal & Yang Akhir = kodrat TUHAN. |
| 2. Putra-Nya Yang Tunggal (Tuhan Yesus Kristus/Firman/ TUHAN Yang Mahakuasa/ Pencipta Langit dan Bumi/ Anak Allah/Anak Domba Allah/ Raja Sorga & Bumi/Pengantara Esa/ Pemimpin). | Yesus Kristus; = Juruselamat = The Only Begotten of the Father/ Son of God = Yang Diurapi (Kristus/Mesias) = Anak Allah/Putra Allah/Anak Tunggal Bapa. = Anak Manusia, Yang Disalibkan, Wafat, Dimakamkan, pada hari ketiga Bangkit, dan Yang Hidup Selama-lamanya. = Alfa & Omega = Yang Awal & Yang Akhir = kodrat TUHAN. |
| 3. Roh Kudus = Holly Spirit / Roh Allah = Spirit of God / Nafas Yang Mahakuasa = The Breath of the Almighty. | Roh Kudus; = Roh Kebenaran = Spirit of Truth = kodrat TUHAN. |