Bagaimana sejarah gereja Katolik dan Kekristenan di dunia?

Q : Sejak kapan gereja disebut gereja katolik?
A : Jawaban.

Jawaban:
Istilah katolik merupakan istilah yang sudah ada sejak abad awal., yaitu sejak jaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes).-New Catholic Encyclopedia buku ke-3.

Asal mula kata gereja katolik, berasal dari kata [ἐκκλησία] “ekklēsia”, yang berarti gereja dan [καθ’][ὅλης] “kath’ holēs”, yang berarti jemaat atau umat Seluruh atau Universal, atau Gereja Katolik.-(Kisah Para Rasul 9:31).

Nama Gereja Katolik resmi digunakan pada awal abad ke-2 tahun 107, ketika St. Ignatius dari Anthiokia, menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Smirna, untuk menyatakan Gereja Katolik adalah gereja yang didirikan berdasarkan ajaran dari Yesus Kristus. Nama gereja ini digunakan untuk umat Tuhan secara universal dan juga digunakan untuk membedakannya dari para heretik (bid’ah/penyesat) pada saat itu yang juga mengakui sebagai jemaat Kristen, yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia.

Q : Mengapa ada istilah Gereja Ritus Timur dan Ritus Barat?
A : Jawaban.

Jawaban:
Sampai tahun 451, Gereja Katolik belum mengenal adanya istilah Gereja Ritus Barat atau Ritus Timur. Gereja Katolik hanya ada satu, namun karena di abad awal terdapat ajaran-ajaran sesat yang berupaya menyederhanakan misteri KeTuhanan dan Kemanusiaan Yesus pada saat Ia menjelma menjadi manusia, ajaran-ajaran sesat itu terlalu menekankan sisi kemanusiaan Yesus, sehingga mengatakan Yesus bukan Tuhan. Atau sebaliknya, menekankan sisi KeTuhanan Yesus sampai menelan sisi kemanusiaanNya, sehingga Yesus dianggap bukan sungguh-sungguh manusia. Atau adapula yang mencampuradukkan kedua kodrat ini.

Untuk meluruskan hal ini, para Uskup berkumpul dalam Konsili Kalsedon tahun 451, yang menetapkan dan menegaskan kembali secara bersama-sama mengenai ajaran gereja bahwa pada saat penjelmaan-Nya, Yesus mempunyai dua kodrat yaitu kodrat Allah dan kodrat Manusia, yang keduanya bersatu secara hypostatik. Konsili Kalsedon pada tahun 451 sekaligus mengecam ajaran-ajaran sesat, diantaranya:

  1. Nestorianisme: Ajaran yang mengatakan bahwa Yesus eksis sebagai dua pribadi, yakni sebagai manusia Yesus dan sebagai Putera Allah (Logos).
  2. Arianisme: Ajaran yang mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah Putra Allah yang diperanakkan oleh Allah Bapa pada suatu ketika, berbeda dari Sang Bapa, dan oleh karena itu lebih rendah derajatnya daripada Sang Bapa.
  3. Monofisitisme: Ajaran yang mengatakan bahwa Yesus Kristus hanya memiliki satu kodrat, yaitu kodrat ilahi, karena kodrat kemanusiaan-Nya telah terserap dalam keilahian-Nya.

Setelah Konsili Kalsedon terdapatlah dua kelompok besar dalam Gereja Katolik, yaitu:

  1. Kelompok Chalsedonian Christianity (menerima hasil Konsili Kalsedon), diantaranya;
    • Gereja Katolik Roma (Ritus Barat),
    • Gereja Ortodoks Konstantinopel/Gereja Ortodoks Yunani (Roma Baru); dibawah Patriark Konstantinopel Yunani/Patriark Ekumenis Konstantinopel sebagai primus inter pares dalam persekutuan Gereja Ortodoks Timur (di Timur Tengah); yaitu
      • Kebatrikan Aleksandria, 
      • Kebatrikan Antiokhia, dan 
      • Kebatrikan Yerusalem.
  2. Kelompok Gereja Ortodoks Oriental (menolak hasil Konsili Kalsedon/Non-Kalsedon), diantaranya;
    • Gereja Armenia, 
    • Gereja Koptik, 
    • Gereja Etiopia,
    • Gereja India,
    • Gereja Suryani Antiokhia (Ritus Antiokhia tradisi Suryani/Gereja Yakubiah)
    • Gereja Eritrea, dan 
    • Gereja Syria.

Kebatrikan-kebatrikan penganut Kristen Kalsedon bersama-sama dihormati sebagai lima rukun agama Kristen yang ortodoks dan katolik, sekaligus sebagai lima rukun Syahadat Kalsedon. Pada abad ke-6, yakni pada masa pemerintahan Kaisar Yustinianus I, lima kebatrikan ini diakui sebagai “Pentarki”, otoritas gerejawi resmi jemaat Kristen Kekaisaran Romawi.

Pentarki (dari kata Yunani Πενταρχία, Pentarchia dari πέντε pente, “lima”, dan ἄρχειν archein, “untuk memerintah”) merupakan suatu model yang secara historis diperjuangkan dalam Kekristenan Timur sebagai suatu model administrasi dan relasi gereja. Dalam model ini, Gereja Kristen atau Kristiani diperintah oleh para kepala (Patriark) dari kelima takhta episkopal besar dalam Kekaisaran Romawi: Roma, Konstantinopel, Aleksandria, Antiokhia, dan Yerusalem. Pentarki pertama kali dinyatakan secara konkret dalam hukum-hukum Kaisar Yustinianus I (527–565), khususnya dalam Novella 131. Konsili Quinisextum yang diselenggarakan pada tahun 692 memberinya pengakuan secara formal dan memeringkat takhta-takhta tersebut berdasarkan urutan keutamaan. Setelah konsili itu, konsep pentarki setidaknya diterima secara filosofis dalam Kekristenan Timur, namun pada umumnya tidak diterima dalam Kekristenan Barat, yang menolak hasil konsili itu, dan konsep pentarki.

Gereja yang bergabung dalam Chalcedonian Christianity dibedakan dalam pengakuan Paus di Vatikan sebagai otoritas tertinggi dalam gereja Katolik. Gereja Ortodoks Timur menerima hasil konsili kalsedon (451), namun mereka tidak menerima otoritas Bapa Paus. Oleh karena itu, walaupun Gereja Ortodoks Timur menyebut diri mereka sebagai Gereja Katolik Ortodoks, namun sesungguhnya tidak tergabung secara penuh dengan gereja Katolik Roma. Penolakan akan otoritas Paus ini, baru efektif berlangsung setelah skisma di tahun 1054, sebab sebelumnya Bapa Paus di Roma tetap diakui sebagai Uskup yang Pertama, diantara para Uskup lainnya.

Otoritas yang lebih besar dari takhta-takhta ini dalam hubungannya dengan yang lain terkait dengan keunggulan gerejawi dan politisnya masing-masing; semuanya terletak di daerah-daerah dan kota-kota penting Kekaisaran Romawi dan merupakan pusat-pusat penting Gereja Kristen. Roma, Aleksandria, dan Antiokhia telah terkemuka sejak zaman Kekristenan awal, sementara Konstantinopel mengemuka setelah menjadi tempat kediaman imperial pada abad ke-4. Sejak saat itu Konstantinopel senantiasa diberi peringkat tepat setelah Roma. Yerusalem mendapat posisi secara seremonial karena arti penting kota itu dalam masa awal Kekristenan. Kaisar Yustinianus II dan Konsili Quinisextum mengecualikan dari pengaturan pentarki, semua gereja di luar Kekaisaran, seperti Gereja dari Timur, yang berkembang di Persia era Kekaisaran Sasaniyah, dipandang sesat oleh mereka. Yang diakui di dalam Kekaisaran Romawi hanya Kekristenan Kalsedon (atau Melkit), dan para pengklaim non-Kalsedon atas takhta Aleksandria dan Antiokia dianggap tidak sah.

  • Konsili Quinisextum: Konsili Kelima-enam, sering disebut pula Konsili dalam Trullo, atau Sinode Penthekte, merupakan sebuah konsili gereja yang diselenggarakan pada tahun 692 di kota Konstantinopel atas perintah Kaisar Yustinianus II. Konsili ini disebut sebagai “Konsili dalam Trullo” karena, seperti Konsili Ekumenis VI, diselenggarakan dalam aula berkubah di istana kekaisaran (τρούλος [troulos] yang berarti kubah ataupun mangkuk). Kedua Konsili Ekumenis, baik yang Kelima dan Keenam batal untuk menyusun hukum kanon yang disipliner, oleh karena itu Konsili ini bertujuan untuk memenuhi apa yang belum terselesaikan di dua konsili tersebut.

Pemisahan ini bukan disebabkan oleh suatu kejadian sesaat, namun karena akumulasi dari banyak kejadian sejarah, yang memang telah bertubi-tubi melanda dan terjadi di Gereja-gereja Timur yang berpusat di Konstantinopel dan Gereja Barat berpusat di Roma. Selain itu pemisahan ini dikarenakan persaingan politis untuk memberantas banyaknya ajaran-ajaran sesat yang terjadi di gereja-gereja timur (Arianisme, Nestorasionisme, Apolloniarisme, Monofisitisme, Ebionisme, Monotelitisme, dll). Selain itu pengaruh budaya dan bahasa; Gereja Timur ingin memasukkan pengaruh bahasa dan budaya Yunani, sedangkan Gereja Barat memasukkan pengaruh budaya Latin. Sedangkan dibedakan lagi dalam hal “roti tak beragi”. Ketika pasukan perang salib dimulai tahun 1090, para patriark Byzantin yang singgah di Konstantinopel menyerang gereja-gereja Latin, yang sudah ada disana sejak jaman Kaisar Konstantin. Mereka menyerang dan mengatakan bahwa Ekaristi mereka tidak sah, karena menggunakan roti tidak beragi.

Sedangkan Gereja Ritus Timur adalah Gereja-Gereja Katolik Timur atau Gereja-Gereja Katolik Oriental (bahasa Latin: Ecclesiae Catholicae Orientales) atau Gereja-Gereja Katolik Ritus Timur yang pernah pula disebut Gereja-Gereja Uniat merupakan “dua puluh tiga Gereja partikular Kristen Timur sui iuris dalam persekutuan paripurna dengan Sri Paus di Roma”, sebagai bagian dari Gereja Katolik sedunia. Di bawah pimpinan batrik-batrik, uskup-uskup metropolit, dan uskup-uskup agung utama, pemerintahan Gereja-Gereja Katolik Timur diselenggarakan menurut Kitab Kanon Gereja-Gereja Timur. Selain itu, tiap-tiap Gereja Katolik Timur memiliki kanon-kanon dan hukum-hukum tersendiri, dan didorong untuk melestarikan tradisinya masing-masing.

Q : Bagaimana dengan pemisahan gereja Protestan dari Katolik?
A : Jawaban.

Jawaban:

Paus Leo X melalui Bulla Exsurge Domine (15 Juni 1520), meminta Luther untuk menarik 41 pernyataannya yang salah, yang dinyatakan oleh Luther dalam 95 theses dan tulisan-tulisannya yang lain. Luther diberi waktu 60 (enam puluh) hari untuk menarik tulisannya, tetapi Luther menolaknya, dengan membakar Bulla tersebut. Martin Luther menerima hukuman ekskomunikasi oleh paus Leo X, melalui Bulla Decet Romanum Pontificem tanggal 3 Januari 1521.

Sampai akhir hidupnya, Luther menentang kepausan, seperti terlihat dalam tulisan-tulisan terakhirnya di tahun 1545. Luther meninggal dunia pada tanggal 18 Februari 1546 tetap dalam keadaan keterpisahannya dengan gereja Katolik.

-sumber: [Wikipedia-kristen kalsedon; pentarki; Exsurge Domine; Decet Romanum Pontificem; Konsili Quinisextum]; sahabatkatolikindonesia.