Q : Apakah semua agama sama saja?
A : Jawaban.
Jawaban:
Pertanyaan serupa adalah “Apakah semua agama sama saja?”. Dalam pengalaman sehari-hari, kita sering mendengar ungkapan “semua agama itu sama saja”. Bahkan ungkapan demikian, tidak hanya diungkapkan oleh umat awam biasa, tapi kadang juga oleh oknum imam Katolik sendiri. Mungkin maksud mereka hanya ingin menunjukkan rasa toleransi dengan semua pemeluk agama yang berbeda-beda. Atau memang bisa juga karena belum memahami hakikat dari sebuah agama khususnya kita sebagai umat Katolik.
Saya secara pribadi ketika mendengar ungkapan ini bisa saja memakluminya. Namun kalau pertanyaannya “apakah semua agama itu sama saja?”, Maka jawaban saya adalah semua agama tidak sama. Agama yang satu berbeda dengan agama yang lain. Karena jika sama, mengapa saya harus bertahan dan menjadi seorang Katolik. Kalau dikatakan sama, maka bisa saja hari ini saya Katolik, besok saya Protestan, lusa saya menjadi Hindu, dan seterusnya.
Justru karena berbeda maka ada sebuah kekuatan untuk mencintainya dan menjaganya dengan setia. Yesus yang saya imani sebagai jalan dan kebenaran dan hidup (Yoh 14:6), jelas berbeda dengan yang diyakini oleh agama lain. Tuhan yang saya imani adalah yang bersekutu dalam persekutuan Allah Tri-Tunggal MahaKudus.

Bunda Maria yang saya hormati adalah Bunda Allah yang perawan tanpa noda dosa. Para Santo dan Santa yang saya hormati memiliki peranan penting dalam perjalanan hidup beriman saya. Selain itu hanya katolik yang memiliki tujuh sakramen sebagai tanda kehadiran Allah untuk umat manusia. Hanya katolik yang merayakan Sakramen Ekaristi sebagai peringatan akan pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Hanya katolik yang memiliki Paus, para Uskup, para Imam, para Suster, para Bruder, para Diakon. Hanya katolik yang memiliki warna liturgi, lagu-lagu liturgi, tahun liturgi, di setiap harinya.
Dari segala prinsip ajaran iman, moral, hirarki, dan juga kepemimpinan, serta fungsi atau peran awam Katolik sangat berbeda dengan yang lain. Bahkan secara pribadi saya merasa bangga, bahwa hanya di dalam gereja katolik, tokoh agamanya entah itu Paus, para Uskup, dan para Imam, para Suster, para Bruder, para Diakon yang adalah manusia-manusia normal, justru dengan ketulusan hati, mempersembahkan hidup dan diri untuk Tuhan dan gereja, artinya tidak menikah.
Bahwa kemudian ada persoalan terkait kehidupan mereka-mereka ini, Itu hal lain tetapi tidak mengurangi sedikitpun perbedaan agama katolik dengan agama lain, karena itu menjadi sebuah kekayaan rohani gereja yang tidak pernah rusak sampai kapanpun, walau harta itu hanya berada dalam sebuah bejana tanah liat.
Meskipun agama katolik berbeda dengan agama-agama lain, bukan berarti gereja menutup pintu dialog dan perjumpaan dengan agama lain, karena berada dalam asal dan tujuan bersama sebagai umat manusia.

“Semua bangsa merupakan satu masyarakat, mempunyai satu asal, sebab Allah
menghendaki segenap umat manusia mendiami seluruh muka bumi. Semua juga
mempunyai satu tujuan terakhir, yakni Allah, yang penyelenggaraan-Nya, bukti-bukti kebaikan-Nya dan rencana penyelamatan-Nya meliputi semua orang, sampai para terpilih dipersatukan dalam Kota suci”.-(Wahyu 3:10-13);[NA 1-KGK842].

Meskipun berbeda, katolik menjadi jalan yang mewartakan dialog, perjumpaan dan perdamaian tanpa ada sekat. Justru karena berbeda, katolik hadir mewartakan Yesus yang adalah jalan dan kebenaran dan hidup kepada sesama yang berbeda. Saya katolik dengan tetap memegang teguh bahwa katolik berbeda dengan agama lain. Tentu kita harus aktif dalam forum diskusi dan dialog orang muda lintas agama, menjadi anggotan jaringan gusdurian, anggota aliansi nasional Bhinneka Tunggal Ika, dan turut membela persatuan dan kesatuan untuk NKRI.
Maka ketika ada yang mengatakan bahwa semua agama adalah sama, hanya untuk tujuan toleransi, mohon maaf harus saya mengatakan itu sebuah kekeliruan. Jika itu dikatakan oleh seorang imam, maka saya mempertanyakan perutusannya sebagai seorang imam katolik.-Pater Tuan Kopong.
Untuk semua umat Katolik, termasuk para imam, harus mampu membedakan antara iman sebagai umat katolik, yang kehidupan berimannya ditopang oleh kitab suci, tradisi suci dan magisterium dengan tindakan kemanusiaan sebagai umat katolik.

Tindakan kemanusiaan termasuk toleransi tidak bisa mengesampingkan iman sebagai orang katolik. Dan tidak dibenarkan atas nama tindakan kemanusiaan, dan toleransi lantas seenaknya mengatakan semua agama itu sama saja. Lalu jika seandainya ada saudara atau saudari kita pada akhirnya keluar dan mengimani ajaran agama yang lain. Tentu itu persoalan pribadi dia dengan Tuhannya. Kalau dia memahami seluk beluk ajaran keyakinan gereja Katolik. saya yakin mereka akan tetap bertahan dengan keyakinan agama katolik.
Lalu bagaimana sikap kita seharusnya terhadap agama-agama di luar agama katolik? Pada prinsipnya, orang katolik tidak akan menyebut orang yang bukan katolik sebagai kafir. Berikut ini pengajaran gereja katolik, tentang sikapnya terhadap orang non katolik, yang diambil dari buku YouCat, buku pengajaran iman dan ajaran katolik untuk kaum muda.

Sikap terhadap orang protestan, gereja katolik melihat bahwa semua orang yang telah dibaptis menjadi milik gereja Yesus Kristus. Orang protestan adalah juga orang kristen. Di mata orang katolik mereka adalah saudara. Sikap terhadap orang yahudi, sekalipun orang yahudi pernah menganggap bahwa kristianitas adalah suatu sekte sesat, gereja Katolik tetap menganggap mereka sebagai “saudara tua”. Karena Allah mengasihi mereka, serta berbicara kepada mereka terlebih dahulu, dan Yesus sendiri adalah orang yahudi pada masaNya. Sikap orang katolik terhadap agama-agama lain (Islam, Budha, Hindu, dll), gereja katolik menghormati setiap hal yang baik dan benar dalam agama-agama lain.

Sikap gereja katolik, yang wajib diikuti oleh umatnya ini, secara luas dan mendalam, tertuang dalam dokumen konsili dengan judul Nostra Aetate.

Kesimpulannya kita semua harus saling menghormati, namun bukan berarti agama katolik sama dengan semua agama.
-Dari: Pater Tuan Kopong, sahabatkatolikindonesia.